CasaNinesSegovia – Penggunaan sheet mask saat terbang kini semakin umum, jauh dari saat pertama kali diperkenalkan. Dalam sebuah penerbangan baru-baru ini, terlihat banyak penumpang yang mengenakan masker tersebut, menandakan penerimaan yang lebih luas terhadap produk perawatan kulit ini. Menurut Dr. Paris Acharya, seorang dokter estetika dan mantan ahli bedah maksilofasial, perjalanan udara memberikan dampak signifikan pada kondisi kulit.
Dr. Acharya menjelaskan bahwa kelembapan di dalam kabin pesawat sangat rendah, yang menyebabkan kehilangan air dari kulit dan membuatnya terasa kering sebelum penumpang mendarat. Faktor lain seperti penggunaan pendingin udara, perubahan iklim, serta gangguan tidur dan paparan UV, semakin memperburuk kondisi kulit, menjadikannya tampak kusam dan kering.
Sheet mask bekerja berdasarkan prinsip okklusi, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Brendan Khong, seorang dokter estetika. Masker ini membuat penghalang fisik yang menjaga agar serum tidak menguap, memungkinkan penyerapan yang lebih baik dibandingkan hanya mengoles serum pada kulit. Hal ini memberikan kelembapan yang signifikan dalam waktu singkat, yang terlihat dari kulit yang tampak lebih kenyal setelah penggunaan.
Namun, ada risiko ketika menggunakan sheet mask. Ketika masker sudah kering, efektivitasnya dalam memberi kelembapan berkurang, bahkan dapat menarik kembali air dari kulit. Untuk mengatasi masalah ini, disarankan agar pengguna segera menekan serum yang tersisa pada kulit dan mengunci kelembapan tersebut dengan pelembap yang tepat. Dengan cara ini, kulit yang sudah terhidrasi akan terlindungi dari udara kabin yang kering.