Bagaimana London Menjadi Ibu Kota Pesta Siang Dunia

CasaNinesSegovia – Fenomena pesta di siang hari kini semakin marak di London, meskipun situasi ini terlihat bertentangan dengan narasi yang berkembang tentang “mati”nya budaya klub malam. Menurut laporan, diperkirakan hingga 57 persen klub dan pub di London akan tutup menjelang tahun 2030, sebuah kondisi yang menimbulkan keprihatinan di kalangan penggiat industri hiburan.

Luke Huxham, direktur pelaksana Broadwick Live, menyatakan bahwa penutupan banyak tempat tersebut bukan hanya disebabkan oleh peraturan hukum, tetapi juga faktor-faktor lain yang membuat operasional malam hari semakin menantang. Sejak pandemi COVID-19, industri ini menghadapi kenaikan biaya operasional, kebijakan izin yang tidak konsisten, serta keputusan perencanaan yang memungkinkan pembangunan residensial di dekat lokasi hiburan lama.

Kondisi ini membuat pesta di siang hari menjadi pilihan yang menarik. Huxham menegaskan bahwa pergeseran ini adalah adaptasi dari industri terhadap situasi yang sulit. Banyak orang kini lebih memilih untuk bersosialisasi di siang hari, mengurangi konsumsi alkohol, dan mencari pengalaman baru tanpa merasa perlu mengorbankan akhir pekan untuk pemulihan setelah berpesta semalaman.

Tren ini juga terlihat dari DJ Moxie, yang menjelaskan pentingnya pilihan untuk bersenang-senang tanpa harus begadang. Menurutnya, budaya klub dan kehidupan malam memberikan banyak kontribusi pada kota, tetapi tidak semua orang merasa nyaman dengan aktivitas larut malam. Dengan demikian, meskipun semangat berpesta belum hilang, bentuknya kini berevolusi.

Di tengah perubahan ini, para penyelenggara acara pun dituntut untuk merancang lingkungan yang sesuai, memadukan elemen estetika dan atmosfer yang tepat untuk menciptakan pengalaman berpesta yang mengesankan.